Memahami jejak makam Syekh Maulana Yusuf

Banten sebagai eks kerajaan Islam hingga saat ini masih di banggakan oleh masyarakat sekitarnya. Contohnya bila kita berkunjung ke wilayah Banten Lama  yang tak lain bekas istana Kesultanan. Di istana ini terdapat beberapa makam para wali yang di muliakan. Meski kondisi yang  tidak begitu terawat dan terkesan semrawut, pemakaman yang sekaligus menjadi tempat objek wisata ini selalu saja di penuhi peziarah yang datang dari berbagai kota baik lokal maupun interlokal. Apalagi jika bertepatan dengan perayaan  tradisi agama islam, maka  daerah sekitar bekas Kesultanan Banten akan di penuhi oleh para peziarah yang datang dengan berbagai macam maksud pula.
Diantara makam para aulia itu adalah makam Syech Maulana Yusuf. Yang berada di luar kawasan reruntuhan Keraton Kerajaan, sementara ayahnya Panembahan Maulana Hasanuddin berada dalam kawasan Masjid Agung Banten. Syech Maulana Yusuf adalah anak sulung dari Sultan Maulana Hasanuddin  hasil dari pernikahannya dengan Putri Demak Trenggono.
 Setelah ayahnya mangkat, Maulana Yusuf di daulat untuk menjadi pengganti Sultan II Banten Darussalam. Pada masa Pemerintahannya pembangunan di titik beratkan pada pembangunan kota, keamanan wilayah, perdagangan dan pertanian. Pada masa itu Banten adalah wilayah perdagangan maritim  yang sangat maju. Dengan majunya kota Surosowan, menjadikannya kota pelabuhan terbesar di Pulau Jawa. Ramainya kota baru ini membuat di berlakukannya sistem penataan dan penempatan penduduk berdasarkan keahlian dan asal daerah penduduk. Penataan ini selain bertujuan untuk kerapian dan keserasian kota juga untuk kepentingan keamanan, sekaligus upaya penyebaran penduduk untuk memperluas kota. Pada tahun 1579 M Sultan Maulana Yusuf berhasil merebut Pakuan, ibukota Kerajaan Pajajaran dan menguasai seluruh bekas Kerajaan Pajajaran.
Sultan Maulana Yusuf wafat pada tahun 1580 M dan dimakamkan di Pakalangan Gede dekat kampung Kasunyatan sekarang, bergelar Pangeran Panembahan Pakalangan Gede atau Pangeran Pasarean. Namun menurut kisah yang beredar bahwa sebenarnya makam Sultan Maulana Yusuf juga ada di Afrika Selatan. Ini membuat saya jadi penasaran dan bertanya-tanya mengapa bisa terjadi kontroversi demikian?
Saya akhirnya mencari dan mengumpulkan beberapa informasi dari berbagai media. Akhirnya saya mendapat penjelasan dan rangkuman bahwa sebenarnya Sultan Maulana Yusuf  memang di buang oleh Belanda ke Afrika Selatan, karena perlawanannya terhadap Belanda  sewaktu di Banten. Pada usia 18 tahun Syekh Yusuf meninggalkan kota Makasar menuju Banten, setelah itu ke Aceh, kemudian ke Yaman dan seterusnya ke Madinah dan Mekkah, lalu ke Damaskus(Arab) ibukota Suriah dan terakhir ke Istanbul Turki. Kemudian pada tahun 1668 beliau kembali ke Makasar dan pergi ke Banten pada tahun 1671.
Pada tanggal 22 Maret 1684, beliau beserta pengikutnya di tangkap dan di buang ke Srilanka. Di sini dia tetap berdakwah, menulis buku-buku dan menyebarkan agama Islam. Pada Juli 1693 Belanda kemudian mengasingkannya lagi ke tempat yang lebih jauh. Dengan menggunakan kapal Voetboog, Sultan Yusuf beserta para pengikutnya  di bawa ke Zandvliet, yang sekarang bagian dari wilayah Cape Town, Afrika Selatan. Disana dia mengajarkan dan menyebarkan Islam dan di kenal sebagai Syekh. Karena itu beliau  dianggap sebagai salah satu wali.
Lima tahun kemudian tepatnya pada tanggal 23 maret 1699, beliau wafat dan di makamkan  di kawasan yang sekarang di sebut Macassar, sekitar 35 kilometer  dari pusat kota Cape Town. Ketika Syekh Yusuf wafat kabar itu kemudian di sampaikan oleh Belanda kepada keluarga Sultan Banten dan Raja Gowa. Kedua kerajaan itu meminta agar jenazahnya dikirimkan, namun permintaan itu ditolak. Lalu pada tahun 1704 Raja Gowa Abdul Jalil kembali meminta Belanda mengirimkan kerangka  jenazah ke Gowa, dan kali ini di setujui.

Namun ihwal jenazah yang dikirimkan masih di ragukan, sebab sampai kini keturunan Indonesia yang berada di Cape Town tetap yakin jenazah masih ada di Cape Town. Dan sampai saat ini komplek makamnya tetap di bina. Semua spekulasi itu masih ada sampai sekarang, termasuk spekulasi yang menyebut keberadaan makam Syekh Maulana Yusuf di Srilanka dan Banten. Namun satu hal yang pasti tentang keberadaan makamnya yang ada di Afrika Selatan , bisa menjadi jalan untuk terus mempelajari jejak perjuangan Syekh Maulana Yusuf, yang juga diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.  
Sesungguhnya para alim ulama itu pakunya dunia, kekasih Allah, pewaris ilmu Nabi, penunjuk ke jalan yang di ridhoi Allah, namun sayang  kini kita tinggal mengenang dan menangis karena mereka beserta ilmunya telah kembali kepada sang Maha Pencipta yaitu Allah Azza Wajalla.(mz)