Bank BCA Tak Peduli Kaum Disability

Dari Airin: Jl. Putih melati D5 No 36. Boulevard Timur. Kelapa Gading - Jakarta Utara. No hp 99721132/ 081389095988

Perkembangan jaman terus-menerus bergulir semakin canggih. Apabila kita bandingkan 30 tahun yang lalu, tentu saja jauh berbeda. Lihat saja, jaman dulu punya telfon rumah saja itu sudah sesuatu sekali. Mau telfon harus mencari telfon umum dengan menaruh koin sehingga kita bisa menghubungi orang bersangkutan.

Sekarang kita bisa melihat orang-orang berhubungan secara langsung dimanapun memakai telfon genggam, bahkan sambil cam-an (melihat wajah lawan bicara). Apalagi sekarang masanya marak dunia internet yang memudahkan kaum profesional bekerja secara fleksibel. Terutama dalam menerima email, baik itu email kerjaan atau pun billing.

Bagi saya, dengan adanya internet ini bisa membuat saya melihat dunia luar maupun memaksimalkan hidup saya. Ada banyak hal yang bisa saya lakukan yakni: menulis, membaca ebook, belajar bahasa, melihat kebudayaan negara-negara lain, bergaul dengan teman-teman dari berbagai negara, untuk refreshing biasanya saya memilih untuk nonton film yang ada nilai-nilainya.

Selain itu, menggunakan email: untuk bekerja, billing, dagang. Yang tidak kalah penting yaitu, transaksi lewat internet klik BCA menggunakan atas nama mama saya karena sejak kecelakaan, saya sudah memblokir ATM dimana dahulu saya yang dipercaya mengatur tabungan mama.

Sejak saya tahu bahwa internet merupakan kebutuhan saya dalam bekerja. Lewat salah seorang ibu Anita, saya bisa menjual permen kurang lebih ada 8 dus sehingga saya bisa memasang internet. Saya anggap seperti magic bisa mendapatkan pemasukkan hanya melalui transaksi internet banking dalam berbisnis online, begitu mudahnya!

Menjadi penerjemah bukanlah menjadi cita-cita saya, namun merupakan bagian dari mimpi saya. Setelah bergelut di dunia penerjemah selama 6 tahun, saya menemukan sesuatu yang menarik. Bahan-bahan yang sedang diterjemah bisa menjadi pengetahuan yang berguna di kemudian hari, maka saya memutuskan untuk bekerja dengan perusahaan luar, dimana ada situs untuk para penerjemah.

Berdasarkan keputusan ini saya bertekad HARUS memiliki rekening bank sendiri sebagai modal untuk transaksi di internet. Oktober 2013, siapa sangka saya ditolak oleh 2 bank besar hanya dengan alasan tidak bisa tanda tangan. Merasa di deskriminasi, saya pun meminta tante Anita untuk menghubungi temannya selaku kacab BCA di Kedoya. Kemudian pihak bank meminta saya untuk melegalisir surat tersebut di notaris, saya pun menyanggupinya.

Bulan Februari 2014, surat legalisir kelar serta diajukan. Namun diabaikan oleh kacab Kedoya, merasa tidak DITANGGAPI kemudian teman saya mengajukan ke BCA terdekat dimana saya tinggal yaitu Kelapa gading. Sekali lagi, respon dari pihak kacab bank membuat saya terkejut. Mereka tidak mengijinkan saya memiliki ATM dan setiap kali mau transaksi harus ke teller, dan lagi-lagi alasan akan saya pelajari keluar dari mulut kacab, padahal dari PIHAK SAYA SUDAH MELEGALISIR!

Setelah menunggu selama 6 bulan, saya tidak mendapat jawaban yang jelas dari pihak bank. Malahan isi notaris menyatakan bahwa pihak bank tidak akan bertanggung jawab apabila rekening bank saya disalahgunakan. Inipun sudah MERUGIKAN saya! Dulu saat saya normal, membuat rekening bank HANYA BUTUH 5 MENIT! Pertanyaannya adalah: ADA APA DENGAN INDONESIA? Sementara Negara lain berlomba-lomba MENYETARAKAN kaum disabilitas yang hendak MANDIRI.

Faktanya, yang saya ketahui Negara Italy, Jepang, dan Jerman sangat mendukung kaum disabilitas. Teman saya yang berada di Italy memberitahu saya bahwa pihak bank menyediakan notaris untuk kaum disabilitas yang memiliki case khusus. Sementara, di Jerman saya melihat di youtube kaum disabilitas berkeliaran dimanapun dan BEBAS MENGGUNAKAN ATM. Mereka benar-benar di dukung untuk menjadi pribadi yang MANDIRI!

Mentor saya pun menyetujui yaitu Masten selaku Konselor dan Terapis bahwa, “Seorang disabilitas harus

di lindungi namun bukan DI MANJA”. Yang sangat saya sayangkan adalah pihak bank tidak memiliki kebijakan yang jelas untuk kaum disabilitas. Dimana hati nurani mereka? Apakah mereka hanya sibuk mengurusi PERUSAHAAN BESAR dan MELIHAT SEBELAH MATA HAK bagi kaum disabilitas. Istilah kasarnya, mereka menganggap kaum disabilitas sebagai SAMPAH yang bisa MENYULITKAN mereka.

Mohon dukungannya untuk HAK kaum disabilitas yang ingin memiliki hidup yang lebih baik dan mandiri. Bagaimana nasib kaum disabilitas, apabila pihak bank tidak memberi kemudahan sedangkan KEBUTUHAN terus berjalan! Dengan memposting artikel ini, berarti anda mendukung kaum disabilitas dimanapun mereka berada.