Cokroaminoto Referensi Lahirnya Pemimpin Di 2014

H.O.S Cokroaminoto
SHnews (5/3/2014) ~

(Cokro: Pemimpin 2014?)

Oleh GARIN NUGRO

Tahun 1919, ditengah letusan Gunung Kelud, Cokroaminoto yang dikenal dengan sebutan "Yang Utama" memaksakan diri dari Surabaya dengan mobil menembus kota Blitar yang dipenuhi hujan abu yang dahsyat. Sebuah tindakan yang sangat berani. Namun keberanian Cokro haruslah mendapatkan maknanya terhadap kelahiran bangsa ini. Cokro bertindak karena khawatir terhadap nasib salah satu muridnya yang berlibur kerumah orangtuanya. Murid tersebut adalah Soekarno yang masih remaja. Soekarno ternyata selamat. Murid kesayangan Cokro tersebut kemudian menjadi Proklamator negeri ini.

Haruslah dicatar, Cokroaminoto yang sering juga disebut "Guru Bangsa" tercatat sebagai guru dengan murid-murid yang menjadi pelaku utama dinamika kemerdekaan Indonesia. Ia menjadi guru dari beragam ideologi yang tumbuh pada awal abat ke-20, mulai dari agama, nasionalis, hingga sosialis. Sebutlah Samaun yang kemudian melahirkan Partai Komunis Indonesia, Kartosuwirjo yang membangun politiknya lewat DI/TII, dan Soekarno lewat PNI.

Peristiwa gunung meletus terasa menjadi penanda sejarah hidup Cokro. Guru bangsa ini dilahirkan diseputar meletusnya Gunung Krakatau (1883). Inilah salah satu letusan terdahsyat didunia. Kekuatannya mencapai 10.000 kali bom atom yang meluluhlantahkan Horoshima-Nagasaki, dampaknya membentang dari Samudra Hindia hingga pantai Timur Afrika, mendorong dua kali tsunami yang dahsyat. Korban resmi tercatat 35.000, tetapi diperkirakan mencapai 120.000 manusia, banyak dari mereka terapung hingga melintasi samudra. Oleh karena itu, kelahiran Cokro oleh masyarakat dimitoskan sebagai lahirnya ratu adil sesuai ramalan Joyoboyo.

Makna apa dibalik kisah bencana diatas? Apakah meletusnya Gunung Kelut baru-baru ini mengisyaratkan ditemukannya pemimpin baru yang mampu menjawab tantangan zaman baru pasca 2014?

Apakah yang perlu dicatat dari seorang Cokro, pemimpin Islam yang sering disebut sebagai raja tanpa mahkota, karena kemampuannya membangun organisasi terbesar di Asia di permulaan abat ke-20, justru ketika manusia Indonesia abat itu belum mengenal kekuatan organisasi dan organisasi lebih sebagai milik elite, bahkan belum juga mengenal kebangsaan?

Sesungguhnya ada lima keutamaan yang dibangun oleh Cokro. Keutamaan pertama adalah kemampuan menemukan sumber daya kepemimpinan muda dengan karakter serta gagasan melebihi zamannya (15-20 tahun).

Keutamaan kedua, kemampuan mentransformasi daya hidup pengetahuan lewat dialog pada generasi pemimpin baru secara demokratis. Keutamaan ketiga, kemampuan panduan komunikasi untuk menyebarkan spirit pelaksanaan gagasan, baik lewat orasi maupun media komunikasi zamannya, saat itu adalah koran. Keutamaan keempat adalah kemampuan mengajarkan strategi politik lewat beragam siasat ditengah beragam komflik lokal hingga global yang kompleks. Strategi dan siasat ini bertujuan agar kemajuan global mendorong kemajuan lokal dan sebaliknya. Jangan heran Cokro dikenal dengan semboyan, "Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat".

Keutamaan kelima adalah mampu menghidupkan kekuatan organisasi yang sah secara hukum sebagai roda penggerak cita-cita. Oleh karena itu, meski Serikat Islam yang dipimpin Cokro senantiasa keberlakuan hukumnya dipersempit Pemerintahan Hindia-Belanda, Cokro menjalankan siasat agar organisasi Serikat Islam, meski hanya di cabang, mendapat pengesahan hukum. Dengan cara itu, Cokro mampu menjalankan gagasannya dalam syarat hukum Internasional sebagai daya hidup globalisme baru abat itu.
~ Jhon Kolay ~

Foto by ruangjuang
Sumber: Kompas