Dalam Pemilu Nanti, Suara Anda Dapat Saya Beli

Jakarta, SHnews-Setiap caleg tentu saja memiliki strategi pendekatan yang berbeda dalam menarik hati konstituennya.

Ada caleg yang karena "uangnya kebanyakan" hanya ongkang-onglang kaki di rumah mewahnya dan mempercayakan kampanye pada tim konsultan yang ditunjuk untuk mengkampanyekan dirinya, biasanya caleg model begini dalam berkampanye sering kali menghambur-hamburkan uang,  bagi-bagi mobil, motor, sembako, uang, baju, jaket, makanan, peralatan rumah tangga, dan 9 bahan pokok, dll.

Baginya terlalu naif bergumul dengan warga dengan segudang masalah ekonomi, sedang dalam benak sang caleg terpatri sebuah ideologi "suara anda dapat ane beli".

Caleg-caleg model begini jelas hanya akan merusak etika politik bangsa dan model kampanye yang dilakukan sangat kering dan hampa, jauh dari nilai-nilai edukasi dan budaya untuk menjadikan masyarakat peduli, mandiri dan cerdas memilih calon pemimpinnya.

Beda kepala tentu beda isinya, sebuah pepatah lama yang masih berlaku umum sampai saat ini.

Seharusnya kegiatan kampanye yang dilakukan oleh caleg baik tingkat DPR RI, DPRD dan DPD harus  mengedepankan asas pemberdayaan mental intlektual warga. Kegiatan sosialisasi dan kampanye yang guyup dengan nilai-nilai budaya, nilai-nilai edukasi dan etika tentu saja akan lebih bermakna untuk menjadikan demokrasi di indonesia ini tidak kering dan nampak hampa tanpa makna hanya seremonia pesta demokrasi 5 tahuan belaka.

Pemilu raya hanya menghasilkan banyak pejabat yang semakin merajalela uang rakyat dibuat pesta pora, kekuasan dan kewenangan dibagi-bagikan keluarga.

Jadilah warga yang peduli, sadar diri dengan nasib anda 5 tahun mendatang. Pilihlah pemimpin yang berhati nurani. AbuAR