Gaya-gaya para Caleg Berkampanye

Bendera ParPol

Jakarta SHNews(8/2). Tanggal 9 April 2014 nanti negeri kita akan mengadakan haulan nasional, yaitu pemilihan Calon Legislatif DPRRI dan DPRD. Bermacam-macam cara yang dipakai oleh para Caleg untuk menarik simpatik dari masyarakat. Masing-masing Partai Politik (ParPol) menjagokan calegnya. Tak sedikit dari mereka mengikuti gaya blusukan (terjun langsung)  yang sebelumnya menjadi jargon dan ciri khas Jokowi Gubernur DKI Jakarta. 
Sebagian dari mereka ada yang memakai cara dengan mentraktir makan-makan, tak sedikit juga yang rela menghamburkan dana membelikan sembako atau bagi-bagi uang saku, atau mengadakan undian dengan hadiah yang cukup fantastis demi memberikan kesenangan untuk para simpatisannya, bahkan ada beberapa caleg yang membuat selebaran koran yang isinya hanya melulu tentang apa yang telah dilakukan selama kampanye berlangsung.  
Budget (bajet) yang dikeluarkan oleh masing-masing caleg tersebut memang tak sedikit, demi kepentingan kampanye dan iklan politik.  Tanpa disadari oleh kita para caleg tersebut secara nyata atau tidak, secara diam-diam telah membeli suara masyarakat sebelum waktunya. Ini yang disebut dengan money politic!
Masyarakat biasa mungkin hanya memanfaatkan moment ini demi kepentingan pribadi, mereka tak perduli darimana asal sumber dana tersebut atau berapa besar biaya yang telah dikeluarkan, bagi mereka naik atau tidaknya para caleg tersebut tetap tak dapat mengubah kehidupan sosial mereka sehari-hari.
Seharusnya para caleg-caleg yang memiliki hati nurani dan bebar-benar rela ingin menyuarakan keluhan masyarakat, dapat sedikit berkaca, daripada mereka menghamburkan uang dengan label logistik kampanye, lebih baik dana tersebut dikeluarkan untuk kesejahteraan masyarakat. Berikan kepada kaum Dhuafa, buat sekolah gratis bagi kaum papa, atau bisa jadi sekolah untuk yang berkemampuan khusus  atau membuat sebuah pelatihan yang bermanfaat, seperti yang dilakukan oleh Drs.Hardjadinata, beliau adalah salah satu caleg dari Hanura dengan nomor urut 2.
 Apa yang dilakukan beliau sepatutnya dapat digugu dan ditiru bahkan mungkin bisa dikembangkan secara luas. Pak Hardja melakukan mediasi sosialisasi dengan masyarakat dengan membuat Pelatihan Jurnalistik gratis, membangun tempat aspirasi bagi masyarakat, untuk tempat sharing,menampung keluhan dan mendengarkan isi hati mereka. Hal yang mungkin tak terpikir oleh caleg-caleg lainnya. Ini yang bisa disebut “caleg pintar”, beliau dapat membaca apa yang seharusnya bisa dilakukan untuk masyarakat luas pada umumnya. Melalui pelatihan ini masyarakat dapat menjadi Jurnalis-jurnalis penggagas tanpa perlu bersusah payah menyuarakan pendapat dan keinginan warga-warga lainnya.

Semoga kedepannya apa yang telah dilakukan oleh beliau bisa terus berkembang dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.(mz)