Kerajaan-Karajaan Di Dalam Lapas

Ilustrasi Gambar Logo Lembaga Pemasyarakatan
Jakarta (1/3/2014) SHnews ~ Tentunya masih melekat didalam ingatan kita tentang terjadinya peristiwa terbakarnya Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tanjung Gusta, Medan, yang mengakibatkan kaburnya ratusan narapina membuat geger banyak pihak. Publikpun bertanya, bagaimana para tahanan itu mengkordinir diri mereka sehingga dapat membuat kericuhan besar?. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumblah narapidana dan tahanan,didapati bahwa ada tiga sistem pengorganisasian tahanan atau narapidana dilapas atau rutan, yaitu Sistem Kerajaan (sistem banyak bendera), sistem Nasionalis (satu bendera) dan sistem campuran (penggabungan dua sistem tersebut).

Sistem Kerajaan (Banyak Bendera),

Laksana sebuah Kerajaan, organisasi narapidana atau tahanan dalam sistem ini mempunyai struktur organisasi yang lengkap, mulai dari yang dianggap "Raja" atau Kepala Suku (KS), "Wakil Raja atau wakil komandan KS (Wadan), Panglima Pasukan Tempur (Pangpastem), hingga level terendah yaitu Kepala Kamar (Palkam) yang memimpin beberapa orang didalam sebuah sel. Selebihnya bertindak sebagai "Rakyat".

Dalam sistem Kerajaan ini, terdapat iuran yang diperoleh dari kunjungan keluarga, transfer, dan voucer pulsa yang diperjual belikan. Setiap hari golongan rakyat membayar semacam pajak yang besarannya ditentukan sesuai aturan. Uang yang terkumpul ini dikelola, antara lain untuk kebutuhan memasak.

Jika didalam pengelolahan keuangan terjadi penyelewengan yang dilaukan "Raja", golongan "Rakyat" bisa melakukan kudeta. Kemudian, dilakukan pemilihan "Raja" dan petinggi baru. Sayangnya, sistem kerajaan ini meluas hingga membentuk kesukuan, akibatnya sistem ini rentan konflik antar kerajaan (suku).

Sistem Nasionalis (Sistem Satu Bendera),

Sistem yang lebih banyak diterapkan dilapas ini menegakkan satu nendera, Merah Putih, dan satu bangsa Indonesia. Sistem ini mulai diterapkan dari penghuni baru saat mereka masuk wajib menanggalkan segala atributnya. Lapas kelas satu Tanggerang menerapkan sistem satu bendera bagi para penghuninya.

Sebagai bentuk antisipasai terhadap ketimpangan jumblah sipir dan narapidana, sistem ini dibentuk untuk meningkatkan peran aktif narapidana dalam pengamanan dan berbagai kegiatan di lapas. Sistem satu bendera juga dibuat untuk meredam Sistem Kerajaan yang rentan keributan.

Secara tingkatan dari atas kebawah, sistem satu bendera ini terdiri dari pemuka-pemuka narapidana (ketua disetiap blok), tamping (pembantu pemuka narapidana), dan corve (pelayan). Ketiga unsur ini jadi penghubung antara narapidana dan petugas.

Sistem Campuran,

Sistem ini merupakan paduan antara sistem Satu Bendeda dan Kerajaan. Sistem ini terbentuk akibat kegagalan penerapan sistem satu bendera. Di dalam rutan satu lapas, keduanya berjalan dan terkadang saling berbenturan. Percampuran dari kedua sistem ini banyak terjadi dirutan. Entah apa penyebabnya bisa terjadi kegagalan dalam penerapan Sistem Satu Bendera. ~ Jhon Kolay ~

Foto by wikipedia
Sumber : kompas