Lemahnya IT KPU Membuat Suara Rentan Di Rekayasa

Gedung KPU Jakarta
Jakarta (7/3/2014) SHnews ~ Menurut Garin Ganis praktisi Teknologi Informatika, letak potensi kecurangan atas data perolehan suara pada Pemilu, terletak  pada proses rekapitulasi datanya.

Garin juga menyatakan, undang-undang di Indonesia mengatur sistem transfer informasi secara manual yang tidak sederhana dari tempat pemungutan suara (TPS) hingga ke pusat.
"Ternyata celahnya di sini, dari TPS berjenjang ke Kabupaten, banyak pemain disitu," kata Garin di Hotel Luansa, Jakarta Selatan, Kamis (6/3/14) kemarin dalam sebuah diskusi Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII) yang bertema " Mengintip Kerentanan IT Pemilu 2014".

Sistem pencatatan manual yang dilakukan penyelenggara, berpotensi menimbulkan banyak kesalahan. Angka-angka yang ditulis tangan rawan direkayasa. "Sekuat-kuatnya sistem yang dibangun untuk menyelenggarakan pemilu yang jujur dan adil, jika ditingkat bawah masih menggunakan manual yang rawan kecurangan, maka sistem tersebut akan percuma," ungkap Garin lagi.

Garin juga mengakui, untuk membangu sistem TI pengamanan data pemilu bukanlah hal yang murah untuk dilakukan. Pasalnya Indonesia adalah pengguna teknologi, bukan negara pencipta teknologi.

Selanjutnya, Garin berharap agar pemerintah bisa lebih serius dalam membangun Lembaga Pendidikan TI, agar dapat menciptakan lebih banyak lagi ahli-ahli TI yang bisa diandalkan.
~ Jhon Kolay ~

Foto by pdk