Negeri yang Hilang

SHnews, Jakarta - Di sebuah negeri antah berantah, tersedia berbagai macam kenikmatan dan fasilitas. Sehingga negeri itu layak dibilang "surga dunia". Betapa tidak, negeri itu menyimpan kekayaan yang luar biasa melimpah. Sehingga jika dimanfaatkan maka seluruh rakyatnya akan makmur dan sejahtera.

Dunia pun melihatnya sekaligus meliriknya. Tak pelak mereka mendatanginya dengan tujuan dagang, tetapi berakhir dengan penjajahan. Sontak para pemuda dan seluruh penduduk negeri itu bersatu padu untuk melawan orang asing sang penjajah biadab itu.

Singkat cerita negeri itu pun terbebas dari belenggu penjajahan.

Dengan modal seadanya dan semangat patriotisme, negeri itu berangsur pulih bahkan hari demi hari semakin ditakuti negeri penjajah. Negeri itu mulai memiliki kekuatan dahsyat, kedahsyatannya melebihi dua kekuatan lain yang saling berseteru.

Sang Raja mulai dikenal dunia hingga ia mampu menggabungkan beberapa negeri lainnya untuk menyaingi mereka. Sang Raja pun dengan lantangnya siap melawan mereka dan siap bersaing dengan mereka. Dunia pun memandang Sang Raja Negeri Antah Berantah itu sebagai kekuatan yang membahayakan. Pengaruhnya digoyang mereka, agar negeri-negeri lainnya tak terpengaruh, bahkan rakyatnya pun terprovokasi melawan rajanya sendiri.

 Akhirnya Sang Raja pun jatuh dan turun tahta.

Kini negeri itu dipimpin raja baru yang bukan dari keturunannya. Raja baru itu kemudian berangsur memulihkan kepercayaan luar dan membangun negerinya sehingga rakyatnya berangsur mulai menikmati kekayaan yang dimilikinya.

Kekuatan pun mulai nampak di mata dunia walaupun dalam bentuk kekuatan yang berbeda dengan rajanya yang pertama. Kerjasama antar negeri dibangun, desa-desa mulai terbelalak melihat kehebatan rajanya itu. Semua orang mengelu-elukan kehebatannya.

Dengan kenyamanan itu rakyat Negeri Antah Berantah itu mulai terlena, sehingga tak pandai membaca situasi dan kondisi yang berubah, hanya segelintir orang yang berada di dekat singgasana yang mengerti tentang perubahan itu. Akibatnya negeri itu mulai dikuasai keluarga Sang Raja. Para Putera dan Puteri Mahkota mulai "unjuk gigi" di dunia bisnis hingga terkumpul kekayaan yang tidak akan habis sampai "tujuh keturunan".

Diantara yang dekat dengan singgasana raja adalah Sang Patih yang setiap hari mendampingi Sang Raja dan satu orang punggawa yang luar biasa kecerdasannya. Keduanya, sekalipun dari latar belakang yang berbeda,  tetapi mereka memiliki kedekatan kepada Tuhannya. Tak pelak dalam pemerintahan pun Sang Raja mulai mendekati unsur-unsur religius. Sayang, Sang Raja memiliki masa lalu yang membuat orang dendam untuk menghabisi kekuasaannya.

Tak terasa kekuasaan Sang Raja sudah mencapai tiga dasawarsa lebih, sehingga membuat seluruh unsur yang ada di bawahnya bersinergi dan satu suara dengan suara Sang Raja. Rakyat mulai takut jika membicarakan keburukan rajanya maka akan berakibat buruk.

Melihat kondisi itu banyak rakyat yang membuat perlawanan secara politis. Banyak juga diantara mereka yang bertengger pada nuansa "agama" Dan tidak sedikit diantara mereka mempengaruhi kebijakan negeri itu, bahkan salah satu punggawa super cerdas itu diangkat menjadi Wakil Raja. Bagi sebagian negeri lain hal demikian merupakan ancaman yang membahayakan. Mulailah negeri-negeri itu membuat strategi yang jauh berbeda dengan strategi masa lalu disaat Raja Pertama, untuk melemahkan Negeri Antah Berantah itu.

Banyak negeri menyumbang untuk pembangunan tapi berujung hutang. Hal itu berlangsung hingga hampir dua dasawarsa. Akibatnya Negeri Antah Berantah mulai terbebani dengan "banyak hutang". Untuk membayarnya, tak jarang asset negeri itu "dikuasai" negeri "pendonor". Dan akibatnya rakyat mulai marah.

Kemarahan itu akhirnya berujung tragis. Sang Raja pun menyerahkan tahtanya kepada wakilnya, Sang Punggawa yang "super cerdas" itu.

Uporia pun terjadi, kegembiraan yang tak terelakan karena belenggu selama puluhan tahun kini mulai mencair. Hingga tak terbayangkan, negeri lain memandang Negeri Antah Berantah itu dalam keadaan lemah. Akibatnya sebuah pulau yang berada di bawah kekuasaan Negeri Antah Berantah diambil alih orang lain. Sebagian rakyat yang mengerti, bersedih melihat insiden itu.

Setelah peristiwa itu, banyak rakyat yang menginginkan menjadi penguasa pengganti di negeri itu. Semua mengucapkan janji "ini" dan "itu". Semua mengumbar janji memakmurkan rakyat. Semua mengatakan, "Akulah yang terbaik". Tapi Negeri Antah Berantah itu tetap saja tenggelam, tidak lagi menjadi negeri yang ditakuti negeri lain seperti masa lalunya.

Saat lemah seperti itu, banyak rakyat yang mengkhawatirkan negeri ini akan "hilang" dari peredaran karena hidupnya diatur oleh negeri lain. Terlebih, banyak sekali para punggawa yang mau "disogok" dengan harta, tahta dan wanita. Dan tak terelakan lagi kini rakyatnya mulai menyukai hal yang sama yakni suka menerima "sogokan" dalam setiap memilih pemimpin.

Ada satu orang diantara mereka yang tetap berdo'a agar Negeri Antah Berantah itu tetap dilindungi Tuhannya.

Jurnalis SHnews - Yulizar M. Iqbal