Al-Qur'an dan Open Interpretation

Ketika al-Qur'an masih berada di Lauh al-Mahfudz dan menyerap seluruh ajaran-ajaran kitab-kitab sebelumnya, ia menjadi satu-satunya kitab yang mampu menembus dimensi sosial dan kultur yang akan mewarnai peradaban manusia setelah ia menyatu dan membumi bersama penduduk bumi. Kitab ini dipersiapkan oleh Allah menjadi pegangan umat Islam di manapun mereka tinggal. Maka tak ayal, dalam proses turunnya ke muka bumi, selalu diiringi dengan asbab al-Nuzul (saya memahaminya dalam konteks penelitian sebagai latar belakang masalah) sehingga isi dan pesan di dalamnya selalu cocok dengan budaya dan adat istiadat masyarakat setempat.

Karena memang al-Qur'an ini bersifat fleksibel dan membuka ruang untuk ditafsirkan (open interpretation), maka banyak sekali kita jumpai corak penafsiran yang berbeda-beda. Inilah yang kemudian menjadikan ajaran Islam begitu dinamis, serta mampu menembus ruang dan waktu tanpa harus melakukan distorsi pada ayat-ayat tertentu. Open Interpretation terhadap al-Qur'an sebenarnya dilatarbelakangi oleh keunikan pada masing-masing ayat, di mana antara ayat yang satu dengan yang lainnya sangat berbeda, baik pada pelafadzan atau pemahamannya.

Lafadz pada ayat al-Qur'an sebagaimana kita ketahui mempunyai sifat dan karakteristik yang bermacam-macam. Profesor Muhaimin mengungkap dalam Metodologi Studi Islam, terutama kaitan antara Bayan Ilahi dan Bayan Nabawi, setidaknya ada empat kandungan dalam setiap lafadz di dalamnya. Di antaranya ada lafadz yang menunjukkan kandungan atas makna tertentu seperti 'Aam (General), Khas (partikular), mutlaq (bebas), muqayyad (terikat), nahi (larangan), dan amar (perintah). Adapula penggunaan lafadz dalam makna seperti hakikat, majaz, sharih, dan kinayah.

Dari beragam lafadz itulah kemudian melahirkan corak tafsir yang bermacam-macam pula. Ada tafsir yang bercorak kalami di mana metodologi yang dipakai oleh pegiat tafsir ini merupakan metode yang dipergunakan oleh para mutakallimin. Ada juga tafsir yang bercorak fiqhi (fekih), tasawwufi (tasawuf), ilmi (ilmiah), falsafi (filsafat), Ijtima'i wa hadhari (sosiologi dan antropologi), tarikhi (sejarah), serta siyasi (politik). Kesemuanya merupakan khazanah keilmuan Islam yang mengacu pada al-Qur'an, hanya saja letak berbedaannya ada pada metodologi dan pendekatan yang mengiringi.

Namun, dari sekian banyak varian tafsir yang sudah saya sebutkan itu, yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, adalah corak ijtima'i wa hadari. Dikatakan demikian, karena model penafsiran di dalamnya berdasar pada sosio kultural masyarakat tertentu. Dan ini sangat cocok diterapkan di Indonesia, mengingat masyarakatnya yg heterogen dan multikultural memungkinkan untuk melahirkan sebuah epistemologi tafsir yang berpijak pada paradigma baru yaitu tafsir budaya. Tidak mudah memang, namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan. Semoga!.

Mohammad Khoiron
@MohKhoiron