Iman, Ilmu, dan Fisik

Secara garis besar, ada tiga kebutuhan manusia yang bersifat fundamental, di mana ketiga-tiganya itu harus dipenuhi dengan baik dan berimbang. Pertama adalah kebutuhan spiritual yang mencakup keimanan dengan wilayah teritorial yang bersifat metafisik dan abstrak. Kedua adalah kebutuhan psikologis dan intelektual yang mencakup ilmu pengetahuan, di mana objeknya adalah fisik dan metafisik. Dikatakan demikian karena dalam sejarah lahirnya ilmu pengetahuan setelah mengalami pelembagaan didasarkan pada tiga hal, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Ontologi yang dalam pengertian filosofisnya merupakan hakikat akan keberadaan sesuatu adalah starting point dari adanya hubungan yang sangat erat antara alam fisik yang diwakili oleh manusia dan alam metafisik yang diwakili oleh Tuhan sebagai causa prima. Meminjam istilah Max Weber, hubungan yang sangat erat antara manusia sebagai representator dari komunitas sosial dengan Adikodrati (Tuhan) sebagai sebuah hubungan yang harmonis, membuka ruang akan adanya rasionalisasi, sehingga dengan demikian hal yang dalam wilayah metafisik sekalipun mampu untuk dibahas secara logis.

Epistemologi, walaupun para pakar tidak memberikan defenisi yang pas dalam mengistilahkan kata itu, namun pada intinya epistemologi dapat dipahami sebagai ruang yang mempersoalkan ilmu pengetahuan dalam konteks nilai dari sebuah kebenaran lewat pengujian pada aspek metodologi dari pengetahuan tersebut. Bagi kalangan akademisi penguatan terhadap metodologi sangat penting bahkan terkadang harus dipertaruhkan dan dijadikan sebagai harga mati. Karena kuat atau tidaknya argumentasi terletak pada kokohnya bangunan metodologi yang dibangun.

Aksiologi, ketika ilmu pengetahuan dengan metodologi yang mengiringinya sudah dikatakan matang, maka hakikat daripada nilai kebaikan ilmu pengetahuan itu dipertautkan. Pada aspek aksiologi inilah dibahas asas manfaat suatu ilmu, apakah hal itu benar-benar bisa digunakan dengan baik atau malah menjadi sesuatu yang nantinya akan berdampak negatif. Berangkat dari persoalan ini-walupun hanya berbentuk hipotesa- antara keimanan yang diwakili oleh kalbu (hati nurani) dan ilmu yang diwakili oleh akal merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan dan hanya mampu untuk dibedakan.

Kemudian kebutuhan manusia yang ketiga adalah kebutuhan fisik dan biologis. Kebutuhan ini menyangkut aspek fisik semata dan tidak ada hubungannya dengan dua kebutuhan yang telah saya paparkan di atas. Namun, walaupun kebutuhan yang satu ini menurut para pemikir dianggap sesuatu yang bersifat remeh, namun hampir semua umat manusia jatuh terjerembab karena disebabkan oleh kebutuhan ini. Saya sendiri memandang nilai aksiologis suatu ilmu terkadang berhenti-atau juga tetap berjalan namun berdampak negatif- jika kebutuhan ini tidak dipenuhi dengan baik. Bahkan ada sebuah anekdot: "Tidak ada logistik, maka logika tidak berjalan". Walaupun hanya berbentuk anekdot namun itulah realitanya.

Mohammad Khoiron
@MohKhoiron