Valentine Day, Kekhawatiran Yang Berlebih

Valentine Day dan kekawatiran umat Islam yang berlebih dalam menyikapi perayaan ini seolah memperlihatkan bahwa masih banyak dari kita belum mampu untuk sedikit lebih dewasa dalam menyikapi segala bentuk macam fenomena yang terjadi. Kendatipun dalam perspektif kajian sejarah, Valentine Day masih mempunyai cacat dari sisi heuristik (metode pengumpulan sumber data), kritik sumber, dan interpretasi. Namun terlalu bersikap apriori atau bahkan melakukan prejudice terhadap hepotesis sejarah adalah tindakan gegabah. Hal itu diperparah dengan cocoklogi ayat (memaksakan fenomena dengan sebuah teks agar bisa dikatakan sesuai, walaupun pada hakikatnya sangat absurd) yg dilakukan oleh sebagian ustadz.

Umumnya mereka menggunakan ayat "wa laa taqfu fi maa laisa laka bihi ilmun"-Janganlah kamu bersikap atas apa yg tidak engkau ketahui- untuk mengcounter Valentine Day. Menurut al-Thabari, ayat ini turun kepada Bani Nadzir bin Kinanah (salah satu kaum Yahudi yang pernah diusir oleh Rasulullah lantaran mengkhianati janji dan terlibat dalam rencana pembunuhan beliau). Lebih lanjut al-Tabari juga menuturkan bahwa Bani Nadzir ini merupakan suku yang sangat senang melakukan Syahadatus Zur (Persaksian palsu) dan mengumbar sesuatu yang masih memerlukan verifikasi data.

Dengan demikian, kaitan antara ayat di atas dengan Valentine Day yang dalam hal ini masih memerlukan penguatan atas heuristik, kritik sumber, dan interpretasi dalam ruang lingkup kajian sejarah, pada dasarnya bukan hal yang bersifat kontradiktif sebagaimana diyakini oleh sebagian ustadz tersebut. Di mana ia menjadikan ayat itu sebagai dalil atas keabsahan premis dalam menghantam sejarah Valentine Day. Intinya adalah kita boleh untuk tidak setuju terhadap suatu hal, tapi kita juga harus jeli menempatkan dalil naqli sebagai bagian daripada penguat argumentasi kita.

Mohammad Khoiron @MohKhoiron