Kasus Sengketa Tanah Dan Bangunan Mencuat Sejak Tahun 2007 dan Sampai Sekarang Tidak Teralisasi,Masyarakat Sekitar Meruya Selatan Menuntut PT.Portanigrat Untuk Mencabut Pagar-Pagar Pembatas Di Tanah Lahan Tersebut.

Jakarta, 28 April 2016,Kasus Sengketa Tanah yang berada di meruya selatan beralamat jalan putri tunggal dan sekitarnya merupakan kasus yang lama diungkit kembali diawali kasus ini pada tahun 2007 sampai sekarang belum tuntas malah pihak PT. Portanigrat
Selaku meminjamkan tanah seluas 78 Ha.Masyarakat disekitar
Meruya selatan tidak merasa sewa tanah sama PT. Portanigrat,karna
Mereka mempunyai sertifikat dan akte jual beli.Sedangkan PT.
Portanigrat Seenak perutnya main pagar-pagar aja tanah warga meruya selatan,untuk menguasai tanah yang seluas 78 Ha ini akan di kuasai oleh PT. Portanigrat dan pemilik PT. Portanigrat sampai sekarang tidak ketahuan siapa sebenarnya dan dimana alamat kantor Perusahaan tersebut.Masyarakat meruya selatan sampai sekarang belum mengetahui dimana alamat kantor tersebut.
Yang datang cuma preman-preman yang datang memasang pagar kawat pembatas tanah lahan tersebut.Menurut Pak RT setempat belum pernah ketemu langsun pemilik tau bos dari PT.Portanigrat
Malah cuma yang datang suruhan-suruhan PT. Portabigrat jadi masyarakat meruya selatan ketakutan karna adanya preman-preman
Suruhan dari PT. Portanigrat.
Alamat PT. Portanigrat jalan Hayam wuruk no 47 blok E-10 duta merlin jakarta pusat, tapi masyarakat meruya selatan mendatangi kantor PT. Portanigrat ternyata tidak benar alias alamat palsu.
Jadi ini tidak benar alamat kantor perusahaan tersebut adalah bohong kalau memang PT. Portanigrat benar harus berani hadapi masyarakat meruya selatan khususnya jalan putri tunggal jakarta barat.Siapa yang di belakang layar di PT. Portanigrat ini.