Bupati Tolikara Tidak Memperhatikan Sarjana Asal Putra Daerahnya

Beritash.com,Jakarta,19 September 2016- Kabupaten Tolikara dimana daerahnya adalah daerah pedalaman dan terpencil. Yang tidak ada guru pendidikan  mengabdi disana, karna disana pedalaman jadi harus putra daerah sendiri. Angkatan 2012 Masih ada di STKIP Surya di tangerang, motivasi harus di berikan kepada mahasiswa yang berasal dari tolikara. Bupati tolikara tidak pernah mengunjungi para mahasiswa yang masih pendidikan STKIP Surya Tangerang. Bupati tolikara tidak memperhatikan Putra daerah yang lagi pendidikan di STKIP Surya.

Simson adalah satu mahasiswa yang di telantarkan oleh bupati tolikara.Simson wandik,Spd lulusan pendidikan teknologi informatika dan teknologi(TIK). Kepala daerah tolikara tidak memperhatikan putra-putra daerah untuk di pekerjakan di daerah tolikara

Daerah Tolikara adalah daerah naik gunung dan turun gunung,tidak akan ke pelosok-pelosok adalah orang priboemi sendiri.

Maka itu kami asli pribumi adalah yang sudah lulus dan siap mengabdi di kampung sendiri.Yang bisa naik gunung turun gunung adalah putra daerah sendiri. Pemerintah Kabupaten Tolikara sejak tahun 2010 memberikan beasiswa kepada belasan anak muda putra daerah Tolikara untuk kuliah di Jakarta. Paling tidak ada 14 orang yang disekolahkan dan mendapat beasiswa penuh dari anak muda Tolikara ini yang kuliah di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Surya didirikan oleh Profesor Yohanes Surya, Ph.D.

Namun rupanya setelah mereka lulus kuliahnya dan mendapatkan gelar sarjana tidak diakomodir bekerja di pemerintah daerahnya. Padahal sumber daya manusia yang memiliki kemampuan kapasitas tingkat sarjana di pemerintah kabupaten Tolikara sangat kurang. Banyak sekolah yang tidak memiliki tenaga pengajar yang sesuai kompetensinya. Tenaga pengajar bahkan diambil dari orang orang luar daerah setempat. Aneh, lulusan sarjana yang asli putra daerah malah tidak diberdayakan dengan sebaik-baiknya. Ada apakah gerangan ?

Simson Wandik,S.Pd salah seorang mahasiswa yang dibiayai Pemkab Tolikara dan sudah diwisuda mendatangi kantor redaksi Media Sorot Keadilan di Gedung Dewan Pers Lantai V jalan Kebon Sirih Jakarta Pusat (19/09/2016) untuk mengadukan hal ini.

Mewakili 14 orang sarjana asli putra daerah Tolikara dia mengatakan,” Saya sudah dibiayai oleh negara untuk kuliah di Jakarta, setelah lulus menjadi sarjana tara bisa bekerja di daerah asal saya. Sebagai putra daerah saya ingin mengabdikan diri kepada masyarakat setempat, namun aneh pemerintah tak bisa mengakomodir,”Ujar Simson kepada media ini.

“Aneh bahwa jawaban dari Kepala Dinas Pendidikan dikatakan mereka tidak memiliki anggaran. Lalu kemana anggaran pemerintah sebesar 20 % yang dianggarkan di RAPBN itu ? Saya berharap Pemkab. Tolikara membuka mata dan hatinya agar para lulusan sarjana ini diberi ruang untuk ikut mengabdikan diri kepada masyarakat daerahnya. “Kata Simson Wandik yang baru saja lulus sebagai sarjana keguruan dan pendidikan dari STKIP Surya Jl. Scientia Boulevard Blok U7 Gading Serpong,Tangerang.

Pemred  Media Sorot Keadilan menerima kehadiran para sarjana Tolikara ini dengan prihatin dan berjanji akan meneruskan keluhan mereka kepada Presiden Jokowi, ”Presiden harus mendengarkan suara para mahasiswa ini sesuai dengan Program Nawacita-nya. Simson Wandik dan kawan kawannya sebagai putra daerah yang sudah lulus sarjana harus diberi ruang menjadi tenaga terdidik untuk memajukan masyarakatnya.,”Ujar Andi Mulyati, SE.

Sangat memprihatinkan, tenaga terdidik yang sudah dibiayai oleh negara tidak bisa dimanfaatkan untuk membangun masyarakat daerah asalnya karena kebijakan Pemerintah Daerahnya yang tidak bijaksana.

“Bahkan ada dari 3 orang taman kami yang sudah bekerja, meskipun honorer tetapi di kabupaten Lany Jaya yaitu kabupaten tetangga daerah kami Tolikara,”ujar Simson.(ae)