Diskusi Nasional "60 Nuclear: Menanti Kehadiran Reaktor Fusi di Indonesia"

Beritash,Jakarta,1,Desember,2016-Bertempat di Graha Wiliam Soerjadjaja, Kampus UKI Cawang ,Jakarta Timur. Untuk mendukung program Kabinet Kerja di bawah pimpinan Presiden Joko Widodo, teiah ditetapkan target peningkatan pasokan daya Iistrik sebesar 35.000 megawatt (MW) dan harus tercapai pada tahun 2019-2020. Target yang harus dicapai sebesar 7.000 MW setiap tahunnya, sangatlah realistis, mengingat sedang beriangsungnya pembangunan infrastruktur di seluruh pelosok tanah air dan program peningkatan kesejahteraan rakyat melalui peringkatan kegiatan ekonominya secara mandiri. Ketersediaan daya Iistrik tersebut juga merupakan daya tarik yang kuat bagi masuknya investor LN ke Indonesia.

Saat ini, kapasitas sumur-sumur minyak dalam negeri semakin berkurang cadangannya, sedangkan pembukaan sumur-sumur baru di daerah lepas pantai membutuhkan dana besar. Di sisi lain, produksi CPO dari perkebunan kelapa sawit kurang mengurmmgkan karena panen CPO hanya berkisar 5.950 Iiter/hektar/tahun, bila dibandingka dengan panen Iemak (lipid) mikroalga, yang juga dapat diolah menjadi biodiesel (solar nabati), yang mampu mencapai136.9001iter/hektar/tahun, atau 23 kali lebih banyak dari CPO (Y. Cristy 1, 2007). Jika hanya mengandalkan CPO, ijin pembukaan lahan baru untuk kelapa sawit cenderung berlanjut dan menimbulkan tarik-menarik dalam peruntukan lahan dengan pertanian tanaman pangan dan perkebunan rakyat lainnya. Pemerintah perlu menghentiran ijin perluasan perkebunan kelapa sawit dan segera beralih ke budidaya makroalga & tambak-tambak kawasan pesisir. Total panjang pantai Indonesia yang sebesar 81.000 kilometer sangat potensial untuk pengembangan budidaya mikroalga.

President Joko Wtdodo menegaskan, bahwa pemanfaatan energi nuklir merupakan pilihan terakhir. Pemenuhan kebutuhan energi Iistrik dan bahan bakar transportasi  pada pemanfaatan sumber-sumber energi terbarukan, antara lain energi um; energi angin, panas bumi, dan energi nabati. Presiden bahkan mengingatkan, kalau mau menerapkan energi nuklir maka harus dimulai dengan penyusunan roadmapnya.

Duskusi Nasional yang diselenggarakan di UKI merupakan perwujudan atas hak pilih masyarakat dalam cara memperoleh energi; sebagaimana diatur dalam UU Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi Pasal 19 dari UU tersebut menyebutkan tentang Hak dan Peran masyarakat,yaitu

(1) Setlap orans berhak memperoleh energi. (2) Masyarakat, baik secara perseorangan maupun kelompok, dan berperan dalam:
a. penyusunan rencana umum energl nasional dan rencam umum cncrgi daerah dan pengembangan energi untuk kepentingan umum, b. pengembangan energi untuk kepentingan umum.

Terkait dengan UU tersebut, rakyat berhak untuk menolak pembangkit tenaga listrik yang menggunakan sumber energi yang sangat berbahaya dan berisiko tinggl, yaitu energi nuklir yang diperoleh melalui reaksi fissi. Seluruh PLTN di dunia menggunakan energi dari reaksi fissi dan dampak negatifnya dapat dilihat dari bencana-bencana di PLTN Three Mile Island, Chernobyl. dan Fukushima Daiichi, yang menimbukan ribuan korban karena tercemar partikei radioaktlf melalui pernafasan maupun makanan dan minuman. Setengan umur (half. life) radioaktif dari 235 U (uranium) adalah 7,038x 10 tahun, atau 700 jutaan tahun, sehingga merupakan masalah terbesar dan tersulit yang dialami negara-negara pengguna PLTN fissi dalam menyimpan limbahnya. Tempat penyimpanan limbah nuklir yang ada hanya mampu bertahan tidak lebih dari 150 tahun, sehingga dapat digolongkan sebagal tempat penyimpanan sementara. Banyak negara pengguna PLTN telah memutuskan untuk mengakhiri penggunaannya dan membatalkan rencana membangun PLTN baru. Sebagai alternatifnya, mereka telah beralih ke penggunaan energi-energi terbarukan.

Sebagian besar energi terbarukan di bumi merupakan turunan (derivative) dari energi matahari. Jumlah energi matahari yang sampai ke permukaan bumi adalah sebanyak 700 juta terawatthour (TWh) setiap tahunnya, padahal kebutuhan seluruh manusia di bumi setiap tahun hanya 50.000 TWh. Jadl, pancaran energi matahari yang sampai ke bumi 14.000 kali lebih besar dari kebutuhan manusia akan energi setiap tahunnya. Dan energi yang sangat besar itu merasuk ke dalam lautan-lautan di bumi dan tak dapat dicapai (P. Breeze’, 2005). Karena itu, adalah sangat tepat apabiia energi terbarukan dipilih menjadi sumber energi utama bagi manusia sepanjang umur bumi.Dan riset yang sebaiknya kita lakukan adalah berupa penelitian untuk menemukan derivative baru dari energi matahari tersebut.

Sehubungan dengan akan disusunnya roodmap dari penggunaan energi nuklir di indonesia, maka energi nukiir yang diperoleh Iewat teknologi reaksi fissi tidak perlu dimasukkan ke dalam rooemap. Sebaliknya, perlu dipertimbangan penelitian di bidang reaksi fusi dan pengolahan bahan bakarnya, deuterium dan tritium, agar masuk ke dalam roadmap karena reaksi fusi memiliki sejumiah keunggulan, yaitu:
(a) ketersediaan bahan bakarnya yang melimpah di Indonesla (senyawa hidrogen/laut), (b) berkelanjutan, (c) tidak menimbulkan efek gas rumah kaca, (d) umur limbah radioaktifnya jauh Iebih singkat dan pada uranium, (e) non proliferasi,karena limbahnya tidak dapat diolah menjadi senjata nuklir, dan (f) tanpa risiko meltdown.

Bangsa Indonesia tidak perlu merasa malu atau tertinggal dari negara lain dalam menguasai teknologi fissi nuklir. Sebaliknya, kita belum jauh tertinggal apabila mengembangkan riset teknologi fusi nukilr karena masih sekitar 30 tahun lagi baru siap secara komersial.Dan dari riset-riset fusi sejak 1974,teknologi fusi nuklir sudah teruji jauh lebih aman daripada pada fissi nuklir.

Adapun narasumber yaitu:

1.Prof.Rinaldy Dhalimi(DEN,Energi)
2.Dr.Sonny Kerap (DEN,Lingkungan Hidup)
3.Lolo Pangabean Ph.D.(Fisikawan)
4.Dr.Ing.Negah Sudja(Ek.Energi,UKI)
5.Dr.Viktor Chridtina (Fisikawan)
6.Dr.Karlina Supelli (Filsafat)
7.Dr.Suryo Adiwibowo(Fak.Ekologi Manusia,IPB)
8.Dr.Lilo Sunaryo(MAREM)
9.Prof.Dr-Ing.K.Tunggul Sirait(Energi,UKi)
10.Prof.Atmonobudi Soebagio Ph.D.(Energi,UKI)
11.Febby TumewaM.Eng.(IESR)