Proventive Justice Dalam Antisipasi Perkembangan Ancaman Terorisme

Beritash,Jakarta,6,12,2016- Bertempat di Hotel Borobudur Seminar BNPT, penanda tanganan MOU penangulangan  radialisme dan terorisme dan penyerahan cinderamata.
Pebicara Oleh Bapak Kapolri Tito Karnavian.
Moderatornya : Budiman Tanurejo, Hanapi Rais, Arsul sani, Al- Araf, Said aqil siraj, Iwan Setriawan, DENSUS 88.
Agenda acara BNPT tentang masih ada yg menganggap Terorisme merupakan ancaman yang di buat-buat atau mengada-ngada kesadaran perlu menangkal ancaman terorisme baru menjadi perhatian serius ketika sudah menjadi semakin korban dalam jumlah banyak sementara belum ada instrumen hukum yang tepat untuk menangani kejahatan terorisme.
Ancaman terorisme tak hanya di lihat dari sisi hukum pidana tetap menyangkut sisi politis, ekonomi dan berbagai kepentingan hanya dalam konteks terorisme global, munculnya islamik state of iraq and syiria (ISIS) yang secara masih melakukan aksi, telah menginsfirasi gerakan yang sama berbagai negara tahun 2003 di keluarkan UU no 15 tentang penetapan perpu nomor 1 tahun 2002 tentang pemberantasan UU antiterorisme menjadi UU penerapan itu harus tindak lanjuti dengan penyusunan UU antiterorisme karna UU no 15 tahun 2003 di undangkan untuk mengungkap peristiwa bom Bali pemasalahan tak kalah penting adalah keterlambatan militer dalam penanganan terorisme di alam demokrasi yang mengedepankan penegak hukum dalam menangani ancaman dalam masalah melihat perkambangan ancaman terorisme dan mendesaknya keutuhan penyusunan UU antiterorisme perkembangan ancaman terorisme.
Bapak Kapolri Tito karnavian menjelaskan, "salah satu alasan utama dibalik muncul dan berkembangnya terorisme adalah ideologi radikal yang terus-menerus disebarkan melalui narasi-narasi sempit yang justru bertentangan dengan nilai-nilai agama. Karena itu perang melawan terorisme berarti pula perang melawan narasi-narasi kekerasan yang selama ini biasa digunakan oleh kelompok radikal.
Terorisme bukan saja tentang serangan-serangan brutal yang menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga keyakinan-keyakinan keliru tentang ajaran agama yang terus mengendap dalam pikiran dan hati sebagian masyarakat, dan hal ini tidak bisa dibiarkan,” tegasnya.