PAGELARAN SENI “TEMUI HAKIKAT KEBHINNEKAAN DALAM SETIAP DIRI AGAR DAPAT MENYIKAPI KEBERAGAMAN DENGAN ARIF DAN BIJAKSANA”

Beritash.com ,Jakarta, 4 Februari 2017 – Yayasan Tunas Sejati  yang menaungi Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu Tauhid Tunas Sejati, pada hari ini menyelenggarakan Pagelaran Seni  dengan tema: “Temui Hakikat Kebhinnekaan Dalam Setiap Diri Agar Dapat Menyikapi Keberagaman Dengan Arif Dan Bijaksana” bertempat di Ruang Rasamala, Hotel Sofyan Tebet Jl. Prof. Dr. Soepomo, SH, No 28, Tebet, Jakarta Selatan.  Pagelaran Seni disuguhkan untuk berbagai komponen bangsa, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat lintas lembaga, agama dan profesi serta anak yatim, dan kaum dhuafa.  Acara ini digelar sebagai wujud kontribusi kami dalam mengajak semua komponen bangsa agar dapat menemui Hakikat Kebhinekaan dalam dirinya sehingga dapat menyikapi keberagaman dengan arif dan bijaksana. Walaupun kecil, namun diharapkan dapat memberikan dampak bagi siapapun yang tergetar dengan acara ini.
Pagelaran Seni ini didukung oleh seorang pemain biola handal Indonesia Hendri Lamiri, Saskia Tasnim Utami, Tomi Tri Andianto, ISAQ Talent, Orkes Bambu Kencana Wulung, Tim Tari Saman dari SMA Lab School Rawamangun, dan Marawis Masjid Khoiroturrohman.  Sebuah perpaduan seni yang menggambarkan hakikat kebhinnekaan dalam diri dan integritas.  Berbagai Karya Ibu Susilawati Susmono (Guru Besar Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu Tauhid Tunas Sejati dan ISAQ Education Center) ditampilkan antara lain lagu Syukur, Fatamorgana, Sesal, Hymne Tunas Sejati, Tari dan Lagu Kosongkan.  Lagu-lagu tersebut diaransemen dan diiringi secara live oleh Hendri Lamiri.  Lagu nasional dan daerah pun turut ditampilkan yaitu, Nyiur Hijau, Gambang Suling dan Manuk Dadali oleh Orkes Kencana Wulung. Kesenian tari Saman dari Aceh dan Alo Galing dari Kalimantan Barat turut ditampilkan.  Kesenian marawis dari Kramat Jati Jakarta Timur pun turut menyemarakkan acara dengan menampilkan beberapa lagu dan shalawat.  Benang merah dari keseluruhan acara disampaikan melalui narasi yang disampaikan oleh Bima Himawan Ramantika, ST, MM (Direktur ISAQ Education Center). Penyampaian narasi diiringi oleh alunan orkestra yang tak asing lagi di telinga kita yaitu Symphonie No. 40 karya Wolfgang Amadeus Mozart. Narasi dimulai dengan “Hakikat Pelangi Dalam Diri”, dilanjutkan “Hakikat Orkestra, Instrumen dan Harmoni”, “Kekasih Allah dan Menemukan Hakikat Kebhinekaan dalam Diri”, “Menumbuk Keegoan dan Bhinneka Tunggal Ika”, “Cinta kasih yang Sempurna”, dan “ Menuju Keikhlasan” Sebagai penutup Pagelaran Seni, Bima Himawan Ramantika, ST, MM mengajak hadirin untuk bersama-sama merenung ke dalam diri, memerangi keegoan, dan membakar semangat untuk menemukan hakikat kebhinnekaan dalam diri.
Pesan-pesan yang diangkat dalam Pagelaran Seni ini adalah: “Hakikat daripada kebhinnekaan yang harus ditemui di dalam diri diibaratkan warna warni pelangi yang muncul setelah turunnya hujan. Ia berasal dari cahaya yang tunggal. Tetes hujan membiaskannya menjadi merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Indah menghias cakrawala. Keindahan itu tercermin dari munculnya warna-warna yang berbeda secara bersama-sama. Tentu tidaklah indah apabila pelangi hanya muncul dengan satu atau dua warna saja. Tiap warna muncul dengan karakternya sendiri, dengan komposisi yang sesuai. Tidak ada keinginan satu warna mendominasi warna yang lain. Pesannya sederhana, jika ingin menyajikan keindahan, lakukan bersama-sama dan gabungkan kekuatan dalam sinergi positif. Dan sesuai sunatullah, pelangi pun ada saat muncul dan saat pergi. Warna-warni pelangi yang indah, pada akhirnya akan melebur, kembali menjadi cahaya yang tunggal, cahaya polos putih tanpa warna, haruslah ditemui. Inilah lambang keikhlasan setiap diri dalam menerima perbedaan sudah didapatkan”.

“Manusia berasal dari diri yang satu, jika mampu menerapkan hakikat kebhinnekaan dalam dirinya yang telah ditemuinya tentu akan bijaksana saat memandang setiap perbedaan. Dibalik setiap ciptaan ada Cahaya Tuhan yang meliputinya sehingga dapat saling menghargai dan menjaga pertalian kasih sayang. Manusia yang berkesadaran akan diliputi Cahaya Allah dan memancarkan kasih sayang. Meskipun mengalami banyak cobaan dari berbagai perbedaan, ia akan tetap istiqomah, mengajak manusia untuk bertauhid, menyiapkan bekal untuk kembali ke kampung akhirat. Manusia yang telah memiliki kesadaran disebabkan karena pendakiannya dalam bertauhid sampai ke puncaknya“.
Semoga pesan-pesan yang disampaikan dalam Pagelaran Seni ini, gaungnya mampu mencapai pelosok negeri dan mengingatkan kita semua agar berupaya menemukan hakikat kebhinekaan di dalam diri agar mampu arif dan bijaksana serta berkasih sayang dengan semesta dan seisinya.  
Jakarta, 4 Februari 2017 - Panitia Pelaksana Pagelaran Seni