TERKUAK NAMA ORANG YANG SIAPKAN DANA UNTUK PENJARAKAN HOKY

Beritash, BANTUL – Perlahan namun pasti bahwa kebenaran akan menampakkan dirinya dalam kasus
pelanggaran Hak Cipta seni logo Apkomindo. Sedikitnya sudah 5 orang saksi pelapor yang dihadirkan
di Pengadilan Negeri Bantul sampai dengan hari Kamis (9/03/2017) membeberkan fakta-fakta hukum
terkait upaya kriminalisasi Ketum Apkomindo Ir. Soegiharto Santoso.
Saksi saksi yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum Ansyori, SH. rencananya sebanyak 10 orang
dan sampai dengan acara persidangan kamis (9/3/17) sudah 5 orang yaitu :
1. AGUS SETIAWAN LIE
2. RUDI DERMAWAN MULYADI
3. IR.G. HIDAYAT TJOKRODJOJO
4. IR HENKYANTO TJOKROADHIGUNO
5. IR HENGKY GUNAWAN
Sementara saksi-saksi yang lain seperti : SONNY FRANSLAY, ENTIN KARTINI, IR. IRWAN
JAPARI, IR. IWAN IDRIS, IR FAAZ selaku saksi-saksi pihak pelapor belum dimintai
keterangannya, namun JPU berjanji untuk dapat menghadirkan para saksi tersebut dengan cara apapun,
hal ini karena agar sidang kasus pelanggaran Hak Cipta seni logo Apkomindo ini dapat terungkap
dengan sebenar-benarnya dan seadil-adilnya. (lihat : http://bit.ly/2md5MRj dan beberapa berita lain)
Dalam sidang hari Kamis, 09/03/2017 di Pengadilan Negeri Bantul, keterangan saksi Ir. Henkyanto
Tjokroadhiguno menyebutkan juga bahwa terdakwa Hoky adalah seorang "trouble maker" alias si
tukang buat ulah, diantaranya menyebutkan cara bisnisnya dengan Pihak EGA Komputer yang bernama
Christian wanprestasi dan memalukan.
Saksi Henkyanto TA bersumpah
"Pak Hoky saat membeli produk pertama membayar, lalu pada saat membeli produk untuk kedua
kalinya juga membayar, namun pada saat membeli ketiga kalinya, Pak Hoky tidak mau membayarnya,
lalu Pak Christian melaporkan kepada saya yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Apkomindo
untuk minta dimediasi, " Papar Hengkyanto di hadapan Majelis Hakim yang diketuai oleh Subagyo SH
MHum, dengan Jaksa Ansyori, SH. dan Team Penasihat Hukum terdakwa Bimas Ariyanta SH dan
Riswanto SH. , MH., PIA. (09/03/2017 di PN Bantul)
Selain itu, tambah Hengky TA, “Saat saya menjabat sebagai Ketum Apkomindo, saya lupa jabatan
Terdakwa itu apa, karena saat itu jabatan yang diberikan kepada terdakwa adalah jabatan yang diada￾adakan saja, agar ada jabatan saja untuk Sdr Terdakwa, apalagi pada masa Ketum nya Pak Suhanda,
dengan bersikukuh Pak Suhanda tidak mau memilih Terdakwa menjadi pengurus Apkomindo sama
sekali, karena Terdakwa adalah seorang trouble maker.” ujar Hengky TA.
Saat Majelis Hakim bertanya dirinya juga tidak mengetahui secara persis perbuatan terdakwa yang
mengaku-ngaku sebagai Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia
(APKOMINDO), yakni Ir Soegiharto Santoso alias Hoky dalam penggunaan logo Apkomindo saat
pameran Mega Bazaar di JEC, Bantul, karena hanya melihat dari iklan di Koran Kompas dan dari email di maillist grup Apkomindo saja.
"Saya mengetahui perbuatan Hoky bukan dengan cara melihat langsung. Tetapi saya mengetahui
perbuatan Hoky dengan mendengar dari pengurus Apkomindo dalam rapat, mailist group Apkomindo
serta iklan di Koran, namun saya yakin Hoky sudah pasti bersalah karena mengadakan event tanpa
ijin dari pemilik Hak Cipta Seni Logo Apkomindo," akunya.
Bukti MoU Dyandra dgn DPD Apkomindo DIY
Sementara itu Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (APKOMINDO), yakni
Ir Soegiharto Santoso alias Hoky menyatakan keberatannya bahwa keterangan yang diberikan oleh
saksi Hengky TA tidak sesuai dengan kenyataannya. "Pertama untuk permasalahan dengan Pak
Christian dari EGA Computer telah diselesaikan dengan sangat baik, teman-teman bisa melakukan
cross check kepada Pak Christian-nya bahkan sampai dengan saat ini hubungan saya masih terjalin
dengan baik, lalu tentang jabatan sebetulnya itu merupakan hak dari masing-masing Ketua Umum nya, �
namun sebagai informasi bahwa setidaknya saya pernah tercatat menjabat sebagai Wakil Sekjen dan
Wakil Ketum Apkomindo bahkan ditahun 2000 pada saat saya menjabat sebagai Wakil Sekjen
Apkomindo mencetuskan membuat CD- Artikel Internet Mencerdaskan Bangsa bersama Dr. Onno
W. Purbo PhD, dimana artikel-artikelnya sangat bermanfaat bagi anggota Apkomindo maupun
masyarakat luas yang ingin meningkatkan pengetahuan serta wawasannya dibidang Teknologi
Informasi, khususnya dibidang internet yang terbukti pada saat ini telah sangat dibutuhkan oleh semua
pihak.”
“Selanjutnya tentang pameran Mega Bazaar di JEC Bantul, saya tidak menandatangani kontrak
kerjasama penyelenggara antara DPD Apkomindo DIY dengan PT Dyandra. Pernyataan saya tersebut
diperkuat dengan bukti kontrak kerjasama yang dilakukan DPD Apkomindo DIY dengan PT Dyandra
Promosindo sebagai penyelenggara sekaaligus pemilik Pameran Mega Bazaar, selain dari itu saya tidak
diberitahukan tentang penyelenggaraan Pameran, saya tidak diundang saat peresmian pembukaan
Pamerannya, serta saya tidak pernah hadir selama 5 (lima) hari penyelenggaraan pamerannya, Karena
memang masing-masing DPD Apkomindo bekerja secara independent dan mempunyai otonomi penuh
untuk menyusun rencana kerjanya, sehingga dalam hal ini tidak benar jika saya memerintahkan DPD
Apkomindo DIY" terang Hoky kepada Majelis Hakim di persidangan.
“Saya merasa keberatan karena selain salah menuduh orang dalam kasus ini, saya juga ingin bertanya
kepada saksi bahwa dalam rapat pengurus Apkomindo DKI Jakarta, Pak Henky TA berulangkali
menyampaikan bahwa ada orang yang sudah menyediakan dana supaya Hoky masuk penjara. Dan
selain ada nya rapat tersebut, saya juga mempunyai bukti lainnya yaitu tulisan via WhatsApp Group
History Apkomindo DKI.”
Selanjutnya Hoky memperlihatkan bukti berupa chatt WA Group kepada Majelis Hakim serta
memohon ijin membacakannya, kemudian bertanya kepada Sdr Saksi Henky TA, “Apakah saudara
saksi mengetahui siapa nama-nama orang yang telah menyatakan siapkan dana untuk penjarakan
saya?” Tanya Hoky.
Cuplikan Bukti tertulis kronologi tentang: ada org yg sdh siap
“Saya tahu nama-nama orang tersebut dan lebih dari 2 (dua) orang, salah satunya adalah Suharto
Juwono, namun nama-nama lainnya saat ini belum teringat,” terang Henkyanto Tjokroadhiguno
kepada Majelis Hakim dalam Persidangan.
Terdakwa heran dengan kemunculan nama Sdr Suharto Juwono yang menjabat sebagai Bendahara
Umum DPP (2015-2018) hasil Munaslub Apkomindo versi Pendiri, karena selama ini terdakwa merasa
tidak ada permasalahan pribadi sama sekali, bahkan line bisnisnya juga berbeda sekali, terdakwa sama
sekali tidak menjual produk-produk Apple, sedangkan Sdr Suharto Juwono adalah Pimpinan eStore
yang menjadi Apple Premium Reseller sehingga khusus menjual produk-produk Apple.
Terdakwa juga telah mencoba menghubungi Sdr Suharto Juwono via WA sejak hari Jumat (10/03),
namun sampai dengan saat ini masih belum direspon sama sekali, padahal menurutnya, tulisan di WA
telah dibaca oleh Sdr Suharto.
Kepada awak media terdakwa mengatakaan; “Untuk sidang berikutnya saya akan menyampaikan
permohonan kepada Yang Mulia Majelis Hakim agar supaya Jaksa Penuntut Umum dapat
menghadirkan Sdr Suharto agar dapat mengungkap lebih banyak pihak-pihak yang telah menyiapkan
dana untuk peristiwa kriminalisasi terhadap diri saya berkaitan dengan perkara nama dan logo
Apkomindo, karena saya selaku Ketum DPP Apkomindo yang sah sempat ditahan di Rutan Bantul
selama 43 hari, ditambahkan lagi sejak tanggal 15 Des 2016 sampai dengan saat ini saya masih harus
terus menerus di sidangkan di PN Bantul. Apalagi Saksi Henky TA telah mengatakan yang menyiapkan
dana ada lebih dari 2 (dua) orang jumlahnya, saya selaku terdakwa ingin semuanya dapat terungkap
didalam persidangan, agar supaya semuanya bisa menjadi terang benderang.” ungkap Hoky.
Saksi Hengky Gunawan di sumpah
Sementara saksi lainnya, yaitu Ir. Hengky Gunawan yang menjabat sebagai Anggota DPA
Apkomindo sejak didirikannya organisasi ini sampai dengan sekarang lebih banyak membahas soal
konflik internal organisasi Apkomindo dan terlihat tidak paham tentang penyelenggaraan tata cara
pemilihan Ketua Umum dan Sekjen Apkomindo, Saksi hanya mengatakan rapat 7 orang sampai 15
orang saja, yang penting jumlahnya ganjil, lalu ada berapa orang yang bersedia menjadi Ketua Umum �dan Sekjennya, setelah itu dipilih, Saksi juga mengatakan tidak setuju dengan tata cara pemilihan “One
Man, One Vote” dari seluruh anggota Apkomindo untuk pemilihan Ketum dan Sekjen nya.
Selain dari itu beberapa jawabannya mirip dengan keempat saksi sebelumnya yaitu tidak mengetahui
langsung soal pelanggaran Hak Cipta seni logo Apkomindo, hanya mendengar dari keterangan Sonny
Franslay dan melihat iklan event Mega Bazaar di Banguntapan Bantul dari Koran, serta sama dengan
saksi yang lainnya, yaitu tidak dapat memberikan perincian tentang saksi Pelapor menderita kerugian
lebih kurang Rp. 5 milyar rupiah, termasuk tetap tidak mengakui terdakwa selaku Ketum Apkomindo
yang sah meskipun telah mengetahui adanya proses dari pencalonan sampai terpilih melalui proses
yang sesuai dengan AD dan ART Apkomindo serta telah terselenggaranya Munas Apkomindo 2015
selama 3 hari dan 2 malam (13 sd 15 Feb 2015) yang dihadiri oleh seluruh DPD Apkomindo se
Indonesia, namun Saksi Ir. Hengky Gunawan hanya mau mengakui penyelenggaraan Munaslub
Apkomindo yang diselenggarakan oleh pendiri, padahal hanya berlangsung beberapa jam saja pada
tanggal 02 Feb 2015 dan tidak dihadiri oleh pengurus DPD Apkomindo manapun juga, termasuk tidak
dihadiri oleh Ketua DPD Apkomindo DKI Jakarta.
Bandingkan Foto Munaslub APKOMINDO 2015
Bandingkan Foto Bersama Munas Apkomindo 2015 Pembukaan - Hari
Pertama
Saksi Ir. Hengky Gunawan pun tetap menegaskan bahwa: “Pokoknya saya tidak mengakui terdakwa
sebagai Ketum Apkomindo dan meskipun saya hanya dengar dari Pak Sonny serta hanya melihat di
Koran tapi saya yakin juga terdakwa pasti sudah melanggar dengan menggunakan seni logo
Apkomindo ciptaan pendiri dan ada kerugian yang ditimbulkan akibat perbuatannya,” tandasnya.
Sementara, Jaksa Penuntut Umum, Ansory SH, masih memilih bungkam terhadap kasus ini. "Maaf
saya tidak bisa memberikan keterangan, karena saya disini bukan Humas," ucapnya ketika para awak
media ingin mengkonfirmasi terhadap keterangan-keterangan para saksi di persidangan hari ini maupun
keterangan para saksi di persidangan minggu lalu, karena semua saksi yang dihadirkan banyak yang
memberi jawaban TIDAK TAU atas berbagai pertanyaan baik dari Majelis Hakim, Penasehat Hukum
terdakwa maupun pertanyaan dari terdakwa.
Selain dari itu ada tertulis dalam Surat Dakwaan JPU: “Bahwa ia terdakwa Ir. Soegiharto Santoso
sebagai Ketua DPP Pusat APKOMINDO, bersama-sama dengan saksi Dicky Purnawibawa (dalam
berkas terpisah) sebagai ketua DPD APKOMINDO Yogyakarta, terdakwa memerintahkan saksi
Dicky Purnawibawa ST sebagai Ketua DPD DIY melakukan kerjasama dengan PT. Dyandra
promosindo untuk melakukan kegiatan pameran Mega Bazar 2016 Consumer Show”.
Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Ansory SH
Namun sampai dengan kehadiran 5 (lima) orang saksi, tidak ada seorangpun yang dapat memberikan
bukti tentang Terdakwa memerintahkan saksi Dicky Purnawibawa ST, Bahkan saksi Dicky
Purnawibawa ST yang telah menjadi tersangka dan sudah P21 sampai dengan saat ini belum pernah
diproses oleh JPU.
Selain dari itu dalam Surat Dakwaan JPU ada tertuliskan: “Awal berdirinya APKOMINDO oleh para
pendiri yaitu: Sonny Franslay, Agus Setiawan Lie, Irwan Japari, Henky Tjokrodiguno, Irwan Idris
Pada tanggal 21 Februari 1992 sesuai Akta Notaris Anthony Djoenardi, S.H.”
Padahal fakta didalam Akta Notaris Anthony Djoenardi, S.H. tersebut tidak pernah ada tertuliskan
nama Henky Tjokrodiguno dan Irwan Idris sebagai pendirinya! Hal ini dapat diduga bahwa dakwaan
JPU tidak cermat dan tidak sesuai dengan fakta-fakta yang ada!
Kemudian dalam Surat Dakwaan JPU ada tertuliskan: “Ketua Umum APKOMINDO Saksi Sonny
Franslay Ketua Umum selama 3 Periode 1991 – 1999, kemudian dilanjutkan oleh Ketua Umum G.
Gunawan Hidayat Tjokrodjojo 2 Periode 1999 – 2005, Ketua Umum Henkyanto Tjokrodiguno 1
Periode 2005 – 2008 dan Ketua Umum Suhanda Wijaya 1 Periode 2008 – 2011 Ketua Umum
APKOMINDO tersebut dalam kepemimpinannya selalu minta izin kepada saksi Sonny Franlay selaku
yang pemegang hak cipta tentang penggunaan Seni Logo dan merek APKOMINDO.”
Padahal didalam AD dan ART Apkomindo masa jabatan Ketua Umum maksimal hanya 2 Periode, jadi
bagaimana mungkin Saksi Sonny Franslay dapat menjabat sampai 3 Periode.�

Surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Ansory SH
Lalu pada persidangan Saksi Hidayat Tjokrodjojo menunjukkan bukti surat nomor: 0001/KH/KU￾APK/XII/1999 dan Saksi Henky TA telah menunjukkan bukti surat nomer 0002/KH/KU-APK/VI/2005
kehadapan Majelis Hakim, seharusnya JPU dapat meneliti dan memahami akan kejanggalan bukti-bukti dari surat-surat tersebut, sebab bagaimana mungkin surat-surat yang tidak mempunyai nilai
komersilnya dan masing-masing telah berusia 18 tahun dan 12 Tahun masih tetap tersimpan dengan
sangat baik? serta nomer suratnya terlihat sangat diatur dan disesuaikan, padahal rentang waktunya
selisih 6 tahun lamanya!
Meskipun bukti surat-surat tersebut tidak wajar, terdakwa Hoky mengatakan: “saya justru meminta
kepada JPU melalui Yang Mulia Majelis Hakim agar bukti-bukti surat asli diperlihatkan di persidangan
dan akan tetap menantikan bukti surat permohonan ijin dari Saksi Suhanda Wijaya yang telah
tertuliskan dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum-nya, saya perkirakan Saksi Suhanda Wijaya
tidak akan mengikuti langkah-langkah tidak wajar yang telah dilakukan oleh Saksi Hidayat Tjokrodjojo
dan Saksi Henky TA, sebab jika mengikutinya, maka Saksi Suhanda Wijaya akan menunjukkan bukti
surat nomor: 0003/KH/KU-APK/..../2008??? dimana jika ternyata bukti surat-surat tersebut tidak sesuai
dengan fakta, maka para saksi akan mendapatkan sangsi pidana, karena telah memberikan keterangan
palsu yang diatur dalam Pasal 242 KUHP, dengan ancaman pidana penjara paling lama tujuh tahun."
pungkas Hoky.