Diskusi Publik Kaukus Muda Indonesia (KMI) Tema : "Dogma dan Liberasi Politik Dalam Mewujudkan Pilkada DKI Jakarta Damai"

Jakarta,17 April 2017 
Bertempat Restoran Gado-gado Boplo,Jl. Gereja Theresia NO 41 menteng Jakarta pusat.

Adapun pembicra yaitu:
1.Bapak Indria Samego (Pengamat Politik LIPI)
2.Bapak Arbi Sanit (Pengamat Politik UI)
3.Bapak Indra J Pilliang (Politisi Muda Golkar)
4.KH.Imam Aziz (Ketua PBNU)

Diskusi ini mengambil tema"Dogma Dan Liberasi Politik Dalam Mewujudkan Politik DKI Jakarta Damai"

Kaukus Muda Indonesia(KMI) yang di ketuai oleh Edy Luhung,mengadakan diskusi ini untuk mewujudkan politik DKI Jakarta damai.

Sebelum Pilkada DKI berlangsun sudah heboh,pemilihan yang di lakukan waktu Fauzy Bowoh dengan Adandrajatung.Ketika tahun 2012 setelah bulan ramadhan sepanjang bulan ramadhan banyak opini yang tersebar,dan akhirnya jokowi yang menang.Jadi PILGUB DKI di lalui proses-proses yang akan di lalui karena metodenya akan di lakukan masing-masing partai galindra,PKS dan partai lainnya.

Orang adalah pendukung salah satu paslon,tetapi massa adalah bagian dari Pilgub DKI Jakarta,karena fonemena yang kita lihat sehari-hari
Bahasanya seram tapi kemampuan bahasa kita yang tidak terbatas.

Sebagai warga Jakarta,artinya dari sejak dulu warga Jakarta mengem jadi pengamen bukan warga lingkungan Jakarta tapi dia pendatang dari jawa timur,jawa tengah dan sumatera.Tapi dana partai dimana masalah pertarungan tidak ada lagi partai yang ideologis.
Sebagai warga Jakarta, artinya dari sejak dulu warga Jakarta jadi pengamen bukan warga lingkungan Jakarta tapi dia pendatang dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sumatera.
Tapi dana partai dimana masalah pertarungan tidak ada lagi partai yang ideologis.

Bapak Indria Samego menjelaskan "bahwa tidak sembarang orang mendengar salah satu paslon membagikan sembako dan amlop yang dimana itu mungkin relawan salah satu paslon 2 atau paslon 3. "Untuk biaya kampaye termasuk di dalamnya suatu keinginan suatu paslon tidak balik kanan dan duit adalah tidak jadi masalah kalau tidak tempat lain tapi kalau memulai ini dengan diapresiasi bahwa ada sisi tentang Pilkada tinggal menghitung hari". 

Indra JPilliang menjelaskan adalah bahwa keramaian kehebohan yang terjadi selama ini. Medsos karena memang rame mulai dari yang sungguh-sungguh berita benar sampai berita yang tidak benar. Betul sementara dunia jaman Pak Harto dan pelakunya itu rezim yang berkuasa kemudian ABRI main, tapi Soeharto sudah bekerja apa namanya mencari pusat-pusat kekuasaan hikmah positifnya dari pergeseran dari sistem yang otoriter di mana ada apa pemegang kekuasaan politik yang sangat
mendominasi politik nasional di masa dulu dimulai dari bawah mulai dari daerah mana pun.
Apa kata Jakarta ujung-ujungnya apakah cendana kan gitu di dalam sistem yang otoriter ini politik akan semuanya terkendali bahasanya otoritas keamanan semua terkendali yang di bawah itu bisa dideteksi secara Dini bahwa kejadiannya akan demikian walaupun tidak 100% berhasil fenomena Lapangan Banteng dulu itu adalah satu bukti bahwa tidak semuanya bisa dikendalikan tetapi enam kali pemilihan legislatif di masa lalu yang pesertanya hanya dua partai dan satu yang itu relatif semuanya terkendali masa Soeharto Saya kira positifnya terlihat ada pemencaran pusat-pusat kekuasaan dan PDIP sekarang  yang di dalam konteks itu sudah sangat brainly bahkan itu menjadi sarana kedua medsos Bangun tidur langsung mainkan apa yang terjadi dengan segala macam ya prosesnya memberikan informasi informasi itu hoax,dulu jaman Golkar berkuasa nggak ada jadi ini merupakan apa salah baca di dalam melihat fenomena yaitu syukur buat kita bahwa memang terjadi apa yang disebut sebagai liberasi politik di dalam proses electoral itu yang diharapkan bahwa kontestasi secara damai itu merupakan konsekuensi dari demokratisasi bukan seperti di masa lalu bahwa Pergantian pemimpin di masa lalu itu suksesi berlangsung secara semua tapi karena pemimpinnya sudah ditunjuk tidak ada dimensi kontestasi dan partisipasi publik Padahal kita menginginkan bahwa pemimpin siapapun dia adalah produk dari kontestasi dan partisipasi inilah demokrasi tahu bahwa kontestasi partisipasi itu memang sangat bervariasi antar berbagai masyarakat di sebagian negara-negara yang sudah mata demokrasi nya tentu saja apa yang dikatakan kontestasi dan partisipasi berlangsung secara mekanistis ada di negara-negara seperti Singapura saja tentara memilih australia Amerika Inggris gitu itu biasa antara mereka yang bersenjata memilih itu biasa Karena memang ada kesadaran tentang politik walaupun kalau tentara nggak bisa dipilih Tetapi dia paling tidak hak politiknya itu Nggak semuanya ketika dibalik bilik suara itu berposisi atau kedudukan yang sama dengan semua warga negara yang sudah punya hak memilih jadi senjata ditinggalkannya.

Persoalannya di kita agak berbeda jadi kalau misalnya kata hati seorang indonesianis dari Australia yang menulis buku sangat fenomena di clan of constitutional democracy Dia mencatat Pemilu tahun 1955 itu adalah Pemilu terbaik dalam sejarah pemilihan umum Indonesia terbaik dalam arti ukuran-ukuran negara konstitusional ada partisipasi ada kontestasi tidak ada apa namanya akibat-akibat yang mencederai demokrasi dalam pemilihan itu proses menuju kontestasi partisipasi itu dulu ada istilah ayat itu biasa bahkan misalnya gesekan atau tidak ngomong antara mertua dengan menantu mertua nya milikmu menantunya.Yang begitu dianggap biasa tapi ya itu mungkin mau milih Ahok menantunya.

"Yang penting apa yang  demokrasi dengan mengumbar ancaman kekerasan intimidasi dan lain-lain kegiatan yang yang super sifat kekerasan itu disingkirkan diganti dengan kontestasi partisipasi tapi secara terbuka persoalannya bahwa di dalam sejarah politik kita ya memang sekali lagi ada hal-hal yang membedakan kita kenal mereka dari negara-negara yang sudah mapan dari negara yang sudah matang demokrasinya sudah mapan prosedur-prosedur yang kalah.