Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI); Adanya Konflik PT. Smelting Dengan Pekerja

Beritash, Jakarta 4, april 2017--Bertempat di Hotel Megapro Menteng Jakarta pusat. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menggelar konferensi pers terkait penjelasan perkembangan mogok kerja dan kasus PT Smelting (satu-satunya smelter Freeport), dan terkait juga PT Freeport, serta rencana aksi solidaritas besar-besaran di Jawa Timur dan nasional selama 3 (tiga) hari berturut-turut terhadap kasus buruh Smelting dan Freeport di Hotel Mega Proklamasi Jl. Proklamasi Jakarta Pusat, selasa (4/4/17).Acara dihadiri Ketum KSPI Said Iqbal, Zainal Arifin, Budianto, dan Riden. Acara dipandu oleh Sekjen KSPI M Rusdi.

Said mengatakan PT. Smelting satu satunya smeltet di Indonesia yang mengolah produksi PT. Freeport. Membangun smelter di Papua tidak masuk akal. Karena hasil turunannya bisa dimanfaatkan. Rugi pajak bahkan Pemerintah Indonesia juga memberikan restitusi pajak. Ini akan kita persoalkan sungguh-sungguh bila perlu ke arbitrasi internasional dan ini berlangsung 20 tahun. Kalau Smelter dibangun di Papua tidak mungkin karena ongkos kirimnya mahal. Dibangun di tempat Petrokimia.

Pelanggaran karena mereduksi perjanjian kerja dan persoalan hubungan industrial. Kalau memperbesar saham PT. Freeport di PT. Smelting berarti ada penambahan modal. Untuk mengerjakan nya membutuhkan orang-orang yang berpengalaman dan rekan-rekan yang bekerja sudah puluhan tahun ujar Said.

Bermacam upaya sudah dilakukan oleh Serikat Pekerja FSPMI PT. Smeltlng untuk memperjuangkan nasib 309 pekerja yang dl PHK Sepihak oleh PT. Smelting. Mulal dari musyawarah dengan plhak management, musywarah di Disnaker, mengadukan nasib kepada Gubernur Jatlm bahkan menyampaikan aspirasinya ke DPRD dan DPR RI. Namun sampal saat ini upaya tersebut nampaknya belum membuahkan hasil. Sudah hamplr 3 buIan pekerja yang dl PHK tersebut tidak menerima gaji tegas Said Iqbal.

Hal tersebut diperparah lagi dengan tindakan Management PT. Smeltlng yang mencabut Fasilitas kesehatan terhadap Pekerja dan keluarga yang di PHK. Bahkan ada istri dari pekerja yang mengalami kecelakaan kerja dan tidak bisa mendapatkan fasilitas kesehatan yang biasa dlterima di Rumah Sakit. Terakhir ada istri dari pekerja yang dl PHK harus melahirkan dan Serikat Pekerja FSPMI PT. Smeltlng yang mencarlkan dana untuk blaya bersalln tersebut. AIhamduIllah Serikat Pekerja FSPMI PT. Smelting dapat mendanai beberapa biaya rumah saklt tersebut kaca Syariffuddin selaku Bendahara Serikat Pekerja FSPMI PT. Smelting.

Menurut Zaenal Arifin selaku ketua Serlkat Pekerja FSPMI PT. SmeIting pemerintah harus turun tangan dalam menangani masalah lnl. Menglngat program pemerlntah dalam mengurangl pengangguran dan mellhal: potensl besar darl Pabrik Smelter ini. Pengusaha PT. Smeltlng telah melanggar perjanjian dan perundangan RI, maka sudah sepantasnya pemerlntah menindak tegas pengusaha PT. Smelting. Kami sebagai rakyat Indonesia berhak mendapat perlindungan dari pemerintah saat ini, sebagaimana isi dasar Negara kita UUD 45.

Menurut kami akan lebih baik jika PT. Smeltlng dapat diamblil alih menjadi perusahaan milik Negara, dan tentunya sebagai rakyat lndonesia kami sangat mendukung ha| tersebut. Kami memiliki sumber daya dan data yang dibutuhkan oleh pemerintah terkait dengan satu-satunya smelter yang ada di lndonesia.

Santernya isu Minerba dan konfllk antara Pemerintah RI dengan PT. Freeport baru-baru ini tentunya tidak terlepas dari PT Smelting yang ada di Kota Greslk, Jawa Tlmur PT. Smelting merupakan Smelter atau pabrlk peleburan hasil tambang PT. Freeport yang sahamnya 75% dlkuasal oleh Mitsubishi Jepang dan 25% milik PT. Freeport. Sebanvak 40 % hasil tambang P’T. Freeport dikelola di pabrlk peleburan ini. Pabrik ini adalah satu-satunya Smelter yang ada dl Indonesia bahkan di Asla Tenggara. Dalam satu tahun, PT. Smelting mengolah lebih dari 1 juta ton hasil tambang PT. Freeport pungkasnya.

PT. Smeltlng sendiri dalam satu tahun mampu menghasilkan produk berupa Tembaga lebih darl 300 ribu ton dengan kemurnian 99.99%. Produk Tembaga yang dihasllkan tersebut rupanya masih belum mampu mencukupl kebutuhan Tembaga baik di dalam negerl maupun di Asia Tenggara. Hal lnilah yang menjadikan alasan perlu dlbangunya Smelter-smeIter lain di Indonesia selain untuk membuka lapangan kerja baru dan termasuk dlantaranya agar 60% hasil tambang PT. Freeport dapat dl kelola di dalam negeri pungkasnya.