#KodeNusantara di Balik Kayon, Pohon Kehidupan Nusantara

Beritash, Jakarta 14 Oktober 2017---Indonesia yang membentang luas dari Sabang hingga Merauke dengan 17.000 kepulauan dan terdiri dari lebih dari 1.200 suku bangsa menyimpan kekayaan budaya yang tak terkira jumlahnya. Ragam kekayaan budaya mulai dari alat musik, cerita rakyat, aneka ragam kuliner, motif kain, musik dan lagu, naskah kuno, pakaian, permainan, produk arsitektur, ritual, senjata dan alat perang, tarian, tata cara pengobatan dan pemeliharaan kesehatan dan tak luput juga seni pertunjukan.
Ada banyak ragam seni pertunjukan di nusantara, salah satunya adalah wayang. Seni pertunjukan yang berkembang pesat di Jawa dan Bali. Wayang sendiri memiliki rupa, bentuk dan keunikannya masing-masing, mulai dari wayang golek, wayang beber, dan wayang kulit. Salah satu yang menarik dari alat-alat pertunjukan wayang kulit adalah kayon, omamen yang merepresentasikan pohon kehidupan di nusantara
Kayon atau yang biasa kita kenal dengan gunungan diciptakan oleh Raden Fatah yang digambarkan dengan rumah, hutan belantara penuh satwa, raksasa, dan naga yang menggambarkan alam semesta penuh dengan isinya. Tak berbeda dengan pohon di alam semesta sebagai alat penanda waktu secara ekologis, kayon sebagai representasi pohon kehidupan juga dimainkan sebagai penanda waktu dan siklus kehidupan dalam pertunjukan wayang. Dalam pemaknaanya, simbol-simbol pohon kehidupan nusantara menjadi penanda pesan agar siapa pun tak Inpa pada sejarahnya, serta tak lupa pada akar dan asal usulnya.”
Tak disangka, kayon dalam pertunjukan wayang yang sarat makna dan filosoii ternyata juga menyimpan pengetahuan dan sains modern yang tersembunyi. Salah seorang peneliti belia dari SMPK Trimulia HITS, Alvina Patricia Wijaya, menemukan jejak-jejak sains ilmiah di balik kayon, yang biasa digunakan untuk pertunjukan wayang. Dari riset yang dilakukan oleh Alvina terhadap belasan bentuk kayon, ia menemukan geometri fraktal di dalam kayon. Melalui riset ini mengantarkan Alvina sebagai Juara Lomba Peneliti Belia Nasional 2016 dan menjadi Timnas Indonesia untuk ajang APCYS (Asia Pasific Conference of Young Scientiest) pada November 2017 mendatang.