Keadilan dan penegakan hukum masih sebatas lips service. Usut tuntas oknum penyidik Polda Metrojaya dan oknum Jaksa di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Beritash.Com - Jakarta, Keadilan dan penegakan hukum masih sebatas lips service. Usut tuntas oknum penyidik Polda Metrojaya dan oknum Jaksa di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Sejak dilaporkan pada 15 November 2013, terhitung sudah memasuki tahun ke 5 proses pengusutan laporan dugaan penipuan, penggelapan dan pemalsuan yang dilakukan Direktur Utama PT Putra Garuda Mas Raya, Virga Raya Damanik & Direktur PT Putra Garuda Mas Raya, Doni Mansen Aritonang kepada Kuasa Direksi PT Avetama Bapak dr. Lukas Budi Andrianto dalam tawaran kerjasama pengelolaan tambang pasir besi di Desa Adipala, Buton, Cilacap, Jawa Tengah, DIPENDAM dan DIPERMAIN-MAINKAN para oknum polisi di Polda Metrojaya dan oknum Jaksa di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Virga Raya Damanik & Doni Mansen Aritonang diduga telah menjadi sekomplotan penjahat yang sering melakukan penipuan, penggelapan dan pemalsuan dalam sejumlah proyek tambang pasir besi. Namun, keduanya selalu saja bebas melenggang tanpa pengusutan yang pasti.

Bahkan, meskipun Virga Raya Damanik dan Doni Mansen Aritonang sudah ditetapkan sebagai tersangka (bukti penetapan tersangka R/8198/12/2017/DATRO tanggal 14 Desember 2017), sampai kini keduanya tidak pernah diperiksa dan ditahan untuk memroses kasusnya.

Perlawanan hukum yang dilakukan Virga dan Doni lewat proses Pra Peradilan (Prapid) atas status tersangka mereka pun telah kandas. Karena keduanya tetap dijadikan tersangka, hakim menolak praperadilan yang diajukan Virga dan Doni.

Virga & Doni diduga bersekongkol dengan oknum penyidik Polda Metrojaya dan oknum Jaksa untuk mengulur-ulur dan bahkan memendam perkara ini. Tindakan itu sangat merugikan pencari keadilan, dalam hal ini Bapak dr Lukas Budi Andrianto. Miliaran rupiah telah ludes selama proses ada proses hukum yang adil dan tidak ada kepastian hukum atas laporan bernomor TBL/4028/XI/2013/PMJ/DitReskrimum tertanggal 15 Nopember 2013 itu.

Acara Konfrensi Pers terkait kasus ini diselenggarakan oleh Korban dr. Lukas Budi Andrianto dan kuasa hukumnya yang digelar di Resto Batik Kuring, Lot 21, Jalan Jenderal Sudirman, SCBD, Jakarta. Senin (25/6/2018).

“Dengan itikad yang baik untuk melakukan kerjasama usaha, dilakukanlah perjanjian dihadapan notaris dan pengakuan kuasa usaha penambangan/Izin Usaha Penambangan dan dokumen lainnya untuk melakukan kerjasama tertanggal 27 Juli 2011”, dr. Lukas Budi Andriyanto memulai kronologis pelaporan ke Polda Metro Jaya pada 15 Novrmber 2013. Dalam penyampaian itu, dr. Lukas Budi Andiyanto di dampingi kuasa hukumnya dari HAS & Rekan, yaitu: Hendrik Sinaga SH; Husen Peluk, DH dan Edi Ratno, SH, MH.

Sejak dilaporkan pada 15 November 2013, terhitung sudah memasuki tahun ke 5 proses pengusutan laporan dugaan penipuan, penggelapan dan pemalsuan yang dilakukan Direktur Utama PT Putra Garuda Mas Raya, Virga Raya Damanik & Direktur PT Putra Garuda Mas Raya, Doni Mansen Aritonang kepada Kuasa Direksi PT Avetama Bapak dr. Lukas Budi Andrianto dalam tawaran kerjasama pengelolaan tambang pasir besi di Desa Adipala, Buton, Cilacap, Jawa Tengah, DIPENDAM dan DIPERMAIN-MAINKAN para oknum polisi di Polda Metrojaya dan oknum Jaksa di Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Virga Raya Damanik & Doni Mansen Aritonang diduga telah menjadi sekomplotan penjahat yang sering melakukan penipuan, penggelapan dan pemalsuan dalam sejumlah proyek tambang pasir besi. Namun, keduanya selalu saja bebas melenggang tanpa pengusutan yang pasti.
Bahkan, meskipun Virga Raya Damanik dan Doni Mansen Aritonang sudah ditetapkan sebagai tersangka (bukti penetapan tersangka R/8198/12/2017/DATRO tanggal 14 Desember 2017), sampai kini keduanya tidak pernah diperiksa dan ditahan untuk memroses kasusnya.
Perlawanan hukum yang dilakukan Virga dan Doni lewat proses Pra Peradilan (Prapid) atas status tersangka mereka pun telah kandas. Karena keduanya tetap dijadikan tersangka, hakim menolak praperadilan yang diajukan Virga dan Doni.
Virga & Doni diduga bersekongkol dengan oknum penyidik Polda Metrojaya dan oknum Jaksa untuk mengulur-ulur dan bahkan memendam perkara ini. Tindakan itu sangat merugikan pencari keadilan, dalam hal ini Bapak dr Lukas Budi Andrianto. Miliaran rupiah telah ludes selama proses hukum yang dipermainkan ini, namun belum juga ada proses hukum yang adil dan tidak ada kepastian hukum atas laporan bernomor TBL/4028/XI/2013/PMJ/DitReskrimum tertanggal 15 Nopember 2013 itu.

Kuasa Hukum Hendrik Sinaga SH. mengatakan," telah menyelidiki bahwa bukti surat panggilan terlapor juga sudah terlampir dua kali panggilan gelar perkara tetapi tidak hadir. Jadi disini terlihat jelas terlapor tidak kooperatif."pungkasnya

(Frengky)